Man A’jabal Khalqi Imanan

from : Hanafi
Filed under: Tahukah anta

“Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan

(man a’jabul khalqi imanan)?” Demikian pertanyaan Nabi Muhammad kepada sahabatnya di suatu pagi.

Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat!”.

Nabi menukas, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”

Sahabat menjawab lagi, “kalau begitu, para Nabi-lah yang imannya paling menakjubkan!”

“Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu turun kepada mereka,” sahut Nabi.

Untuk ketiga kalinya, sahabat mencoba memberikan jawaban, “kalau begitu, sahabat-sahabatmu ya Rasul.”

Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Rasul yang mulia meneruskan kalimatnya,

“Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, walaupun mereka tidak melihatku. Mereka benarkan aku tanpa pernah melihatku. Mereka temukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka bela aku seperti kalian membela aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu!”

Nabi Muhammad menghibur kita, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku,” Nabi ucapkan kalimat ini satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali.

" RATU BIDADARI "

from landy:

Sebenarnya ringkasan surat seorang suami yang pergi berda’wah dibawah ini sudah pernah saya posting pada awal-awal tulisan saya , berisikan beberapa kutipan dari sebuah buku yang saya beri nilai sepuluh waktu itu dan masih tetap sama .

Buku yang saya beli untuk Sha adik saya ketika hamil anak kedua dan sebagai bacaan kala mengurus si kecil Azura, dan juga sebagai penyemangat mana kala ditinggal oleh sang suami untuk belajar memperbaiki amal agamanya.

Tulisan yang masih juga membuat sebuah getaran dihati saya kala membacanya. Dan tulisan ini sekarang saya persembahan untuk seseorang yang siapa tahu menjadi jodoh saya walau saya tidak tahu entah dimana orang yang akan menjadi jodoh saya tersebut :)

WAHAI ISTRIKU !!

Hari ini aku pergi meninggalkan kamu,
Meninggalkan anak – anak kita,
Meninggalkan rumah kita yang penuh kenangan.

Hari ini aku pergi, karena perintah Dzat yang telah menancapkan getaran di hatiku ketika aku menatapmu disaat malam pertama kita.

Hari ini aku pergi, untuk menyenangkan hati seseorang yang telah mengorbankan seluruh hidupnya.
Untuk kebahagiaan kita hari ini,
sehingga kamu dan aku berjumpa dalam keadaan Islam.
Hari ini aku pergi, untuk menghapuskan luka Sayidul ambiya Muhammad saw, karena lautan maksiat yang telah dibuat oleh orang yang mengaku sebagai ummatnya.
Jadi…Wahai Istriku!!

Aku pergi tinggalkan kamu….,
untuk datang kepada Dzat yang memiliki hati kamu hingga bersemi cinta diantara kita
Aku pergi meninggalkan kamu…
Bukan karena aku tak menyayangimu,
Tetapi ada mata yang tak pernah mengantuk,
Mengawasi cinta kita.
Ada tangan yang akan pukul kita ketika cinta kita melebihi cinta kepada-Nya.
Jika Esok…
Ketika kau terbangun dari tidurmu, Kau tak dapati aku disisimu
Maka…Cepatlah bertasbih !!!
”Alhamdulillah….”

Kenapa ?,
karena Rasulullah saw bersabda:
“orang yang paling bahagia adalah orang yang suaminya keluar di jalan Allah swt , karena Dia bukan hidup dengan kekasih-Nya Allah swt, tetapi hidup bersama Allah swt”
Jika esok….
ketika melihat kamar kita sepi, tak ada canda ceria seperti hari sebelumnya
Maka…
Bayangkan oleh mu, Bagaimana rumah sahabiyah !!
Suami mereka selalu pergi membawa pedang ,
Terkadang tak ada kabarYang ada hanya kubur…
Tetapi…
Mereka tetap katakan :

“Biarlah rumah kami sepi,Asalkan rumah – rumah di seluruh alam Penuh dengan Nur Iman”
Jika esok…
Tak ada tangan, yang memberi suapan ketika kau makan seperti yang biasa ku lakukan padamu.

Yakinlah wahai istriku !!
Allah SWT akan beri suapan kepadamu hidangan yang memiliki 70 rasa di Jannah,
yang tak akan jadi kotoran yang menjijikan ,
Bahkan mengeluarkan keringat melebihi kasturi.
Jika esok…
Musibah, Ujian dan sejuta masalah datang dalam kehidupanmu tanpa aku
Lihatlah kepada hatimu Kemana kamu berlari ??
Saat itu Allah SWT ingin lihat Iman kamu yang hari – hari bergantung kepadaku
Segeralah kamu berwudhu, Dirikanlah sholat…!!!
Adukan urusanmu kepada Robb mu, kau akan bahagia di dunia yg sementara
dan akhirat yg selamanya.
Jika saat itu…
Kau cari pertolongan dengan kebendaan, itulah kegagalan dalam hidupmu
Kamu akan menderita selamanya

Ketahuilah !!
Masalah selesai atau tidak, itu bukanlah maksud,
Tetapi Ta’luq kepada Allah swt, itulah suatu kejayaan besar.
Istriku..!!
Jangan kau tipu Allah SWT !!
Kau meminta dengan “Iyya ka Na’budu wa Iyya ka Nasta’in”
Sementara kau meyakini bahwa kejayaan dalam mengumpulkan benda – benda.
Janganlah terpengaruh dengan keadaan dunia
Allah swt beri dunia kepada orang yg dicintai dan juga kepada yang di benci.
Jangan kamu bangga, seandainya kamu dapatkan seluruh dunia,
tetapi kamu kehilangan Allah swt,
Sesungguhnya itu suatu kerugian yang besar.
Karena…
Sekalipun kau berhasil menjaring Jibril as dengan jaring yang kau buat
dan kau bisa perintah sesuai kehendak kamu, Itu pun bukanlah kejayaan jika hari – harimu kehilangan Allah SWT
Orang yang kehilangan Allah SWT, Kehilangan segala – galanya.
Banyak orang dirikan sholat untuk hadirkan benda,
tetapi… , adakah orang sholat untuk dapatkan Allah swt,
padahal “Barang siapa yang mendapatkan Allah swt maka dapatkan segalanya”

Jika esok…
Kau terpandang rumah tetangga kita,
suara tawa, keceriaan terdengar dari sana,
Suami mereka selalu dirumah tak pernah Khuruj fii sabilillah
Jangan kamu iri !!
Kamu justru harus belas kasih kepada mereka,
karena mereka sedang membangun tangisan dan permusuhan yang hebat di rumah mereka
Ketahuilah istriku …
Bahwa setiap amal suami merupakan tabungan buat istrinya,
bayangkan olehmu bagaimana jika seorang suami hanya pandai mencari uang,
Apakah buku amalmu akan bertambah??
Jadi istriku…
Kepergianku melewati batas negeri adalah untuk mempersiapkan pesta – pesta besar untuk kita.
Mudah – mudahan Allah SWT akan mencintai kita
dan memudahkan perjalanan kita pada saat hari terakhir kita di dunia
Aku menyadari aku bukanlah Ali Bin Abi Tholib
dan engkau bukan Fatimah.
Iman kita lemah sehingga kita harus tetap usaha atas Iman
sebagai mana para sahabat
Bantulah aku dalam menempuh jalan Dakwah ,
Dimana orang buta sekalipun akan sampai jika melalui jalan ini
Jangan bebani aku dengan perkara dunia yang aku takmampu penuhi
agar aku bisa Istiqomah dalam kerja Nubuwah.
Ketahuilah !!
Bahwa kematian adalah hari raya bagi orang yang memiliki Iman Kamil
Sedangkan bagi orang yg kafir kematian adalah puasa selamanya
Aku tinggalkan kamu…
Untuk merubah kesedihan dalam kematian menjadi hari yang terindah.
Sebagaimana kekasih Allah swt yang telah sukses melewatinya.
Percayalah !!!
Walau aku yang maju dihadapan musuh , tetapi kamu yang terlebih dahulu di bukakan pintu syurga oleh Ridwan As.
Kamu akan menunggu 500 tahun didepan cermin emas
Dan kamu akan menjadi ratu bagi 70.000 Bidadari dan malaikat.

Tahukah kamu !!
Bahwa kecantikan bidadari 70.000 kali dari kecantikan wanita terhebat di dunia
Sedangkan engkau wahai istriku…Kecantikanmu 70 kali dari kecantikan bidadari,
Bagaimana mungkin aku akan terkesan dengan selainmu??
Maafkan aku, karena tak pernah membawamu pergi ke salon dunia, karena aku tak mau ditipu oleh mereka.
Baju yang kamu pakai dari bahan yang murah dan hanya berwarna hitam menutup wajah manismu.

Ketahuilah baju itu lebih baik dari seluruh dunia dan seisinya,
karena itulah pakaian istri Raja Dua Dunia Akherat yaitu para Ummul Mu’minin para istri Rasulullah saw.
Istriku…Banyak orang merasa di jalan kebenaran,
Tetapi mereka tak rasakan penderitaan Nabinya.
Mereka duduk di rumah, pergi kekantor,Kemudian sholat lima waktu, berhaji,
Mengaku sudah berada di jalan Nabinya??

Sementara Rosulullah saw
Berjalan di terik matahari untuk jumpa manusia
Dicaci , dipukul hingga keluar darah dari tubuhnya
Itu sebabnya beliau saw menjanjikan kepada ummatnya :“ Barang siapa yang menolong aku dan membantu hingga tersampainya risalah tuhanku baginya Jannah “
Seluruh sahabat telah ambil takazah ini,
Mereka pergi tinggalkan rumah mereka untuk berdakwah.
Aku telah habiskan uang kita
untuk perkara ini dan pulang tak bawa hadiah
Tetapi …
Aku membawa pakaianku yang penuh debu fii sabilillah
Sentuhlah oleh tanganmu
Karena…
Debu yang menempel di jalan Allah swt adalah tameng dari asap api neraka.
Wahai istriku…
Jika kamu lihat aku tak pergi dari rumah disaat nisob
dan tak sempurnakan takaza ummat maka berarti aku tak cintaimu lagi.

Kenapa…??
Perkawinan kita hanya di dunia ,
Allah akan pisahkan kita di akhirat.
Sebab aku telah jadikan kamu sebagai penghalang “ Usaha Dakwah “
Tidak !!
Ini tak boleh terjadi !!
Kamu harus targhib aku lagi siapkan bister dan bagku.
Dan tarik tanganku kedepan pintu,
Kunci pintu itu agar aku tak masuk lagi.
“Teriaklah kamu :“
Pergilah suamiku !!!, Persiapkanlah pesta – pesta besar untuk kita
katakan padaku dengan keras :
Aku ingin dipan emas
Aku ingin minum khamr yang tak memabukan
Aku ingin susu, madu dari sungai mengalir di depan rumah kita
Aku ingin naik kuda yg bersayap.

Aku ingat ketika kamu hamil minta buah yg tak musimnya.
Aku mencarinya ke seluruh pelosok kota
karena aku menyayangimu
Perkawinan dunia adalah permainan,
cintanya pun cinta yang main – main
Cinta sesungguhnya tak ada penghianatan
Tak pernah lagi puji orang lain,
Suami istri saling mengagumi
Tak pernah bandingkan dengan orang lain,
hanyalah di Sungai Na’im
Jangan kau sia-siakan umurmu, masa luangmu, kajilah sunnah Nabimu, dan usahakanlah hidup sebagaimana sahabiyah.

Siang mereka jadikan siangmu, dan malam mereka jadikan malamu, sehingga Allah swt datang kepadamu sebagaimana telah datang kepada mereka.

Sebelum ku akhiri surat ini
Aku ingin beri pujian untuk pengorbananmu
Tetapi…Aku tak pandai bersyair, tak seperti ahli dunia mengutip “ Beethouven “ atau “ Shaekespear “ untuk memuji kekasihnya.
Namun, aku hanya bisa berkata :
Aku mengagumi “ Matamu yang memerah “
Saat kamu menangis meminta hidayah.
Aku mencintai “ Pipimu yang merekah”
Saat kamu berkhidmat, menyiapkanSecangkir teh disaat aku lelah.
Aku takjub dengan “ hidungmu” yang mengeluarkan isak
Saat kamu bertobat atas masa lalu kita.
Aku mencintai belaian “ tanganmu “ saat kau mengusap anak kita
Yang berbuat kesalahan.
Aku menikmati indahnya “ senyummu “
Saat kamu menghibur anak kita yang menangis
Agar mereka kembali tertawa.
Aku bersyukur…Allah SWT telah jodohkan aku dengan engkau.
Aku tahu banyak lelaki yang berhajad padamu
Untuk itu aku tak akan sia – sia kan kamu
Menjagamu dari musibah dunia dan akhirat.
Istriku …
Aku mencintaimu …
Tetapi aku tak selalu bersamamu
Aku sering tinggalkan kamu …
Maafkan aku…
Hanya aku berharap
Mencium harum nafasmu di dalam syurga
Tanpa ada lagi perpisahan
Memelukmu tak akan lagi ku lepaskan…
Ya Allah…
Anugerahkan kami …
Rahmatilah kami…
Gembirakanlah istriku walau dalam kesunyian
Dengan adanya asbab atau tanpa asbab disisinya…
Bersihkan hati istriku dari kecintaan kepada dunia
Agar mudah melafadzkan nama-Mu
Saat hari terakhir kehidupan dunianya
Perpisahan kami dalam memperjuangkan agama-Mu
Jadikan asbab berkumpulnya kami dalam keluarga yang sebenarnya di Jannah.
Jadikan kesedihan kami,
Kerinduan kami,
Asbab Engkau ampuni kesalahan kami…
Jadikanlah asbab pengorbanan kami ini
Engkau Ridho kepada kami
Dan jadi asbab hidayah buat seluruh alam
Amin…Amin…Amin…

Tinggalkan Sifat Dengki, Meraih Surga

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, beliau berkata, ‘ Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni Surga’. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang datang sementara bekas air wudlu masih mengalir di jeggotnya, sedang tangan kirinya memegang terompah. Keesokan harinya Rasulullah saw mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu legi persis seperti kedatangannya pertama kali. Di hari ketiga Rasulullah saw mengatakannya lagi dan datanglah laki-laki itu lagi seperti kedatangannya pertama kali. Setelah Rasulullah saw beranjak, Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki tadi sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata, ‘Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau setuju, aku mau tinggal bersamamu sampai tiga hari.’ Dia menjawab, ‘Ya, boleh.’”

Anas berkata, “Abdullah menceritakan bahwa dia telah menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Dia lihat orang itu sama sekali tidak bangun malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia berkata dan menggeliat di atas ranjangnya, dia selalu membaca dzikir dan takbir sampai dia bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Selain itu kata Abdullah, ‘Aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Seteleh tiga malam berlalu dan hampir saja aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dengan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah saw berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni Surga dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka akupun ingin bersamamu agar bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi kau ternyata tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya hingga kau mencapai apa yang disabdakan Rasulullah saw?’ Maka dia menjawab, ‘Aku tidak mempunyai amalan kecuali yang telah kau lihat sendiri’. Ketika akau hendak berpaling pergi, dia memanggilku, lalu berkata, ‘Benar amalanku hanya yang kau lihat sendiri, hanya saja akau tidak mendapatkan pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya.’ Maka Abdullah bin Amr berkata, ‘Inilah amalan yang telah menyampaikanmu pada derajat tinggi dan inilah yang berat untuk kami lakukan.’”

Insya Allah

Nadirsyah Hosen

Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

Saat itulah turun ayat menegur Nabi, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18: 24)

Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata “insya Allah” sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata “Insya Allah” bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata “insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “insya Allah”.

Help file produced by WebTwin (www.webtwin.com) HTML->WinHelp converter. This text does not appear in the registered version.

Tinggalkan Sifat Dengki, Meraih Surga

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, beliau berkata, ‘ Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni Surga’. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang datang sementara bekas air wudlu masih mengalir di jeggotnya, sedang tangan kirinya memegang terompah. Keesokan harinya Rasulullah saw mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu legi persis seperti kedatangannya pertama kali. Di hari ketiga Rasulullah saw mengatakannya lagi dan datanglah laki-laki itu lagi seperti kedatangannya pertama kali. Setelah Rasulullah saw beranjak, Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki tadi sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata, ‘Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau setuju, aku mau tinggal bersamamu sampai tiga hari.’ Dia menjawab, ‘Ya, boleh.’”

Anas berkata, “Abdullah menceritakan bahwa dia telah menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Dia lihat orang itu sama sekali tidak bangun malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia berkata dan menggeliat di atas ranjangnya, dia selalu membaca dzikir dan takbir sampai dia bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Selain itu kata Abdullah, ‘Aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Seteleh tiga malam berlalu dan hampir saja aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dengan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah saw berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni Surga dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka akupun ingin bersamamu agar bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi kau ternyata tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya hingga kau mencapai apa yang disabdakan Rasulullah saw?’ Maka dia menjawab, ‘Aku tidak mempunyai amalan kecuali yang telah kau lihat sendiri’. Ketika akau hendak berpaling pergi, dia memanggilku, lalu berkata, ‘Benar amalanku hanya yang kau lihat sendiri, hanya saja akau tidak mendapatkan pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya.’ Maka Abdullah bin Amr berkata, ‘Inilah amalan yang telah menyampaikanmu pada derajat tinggi dan inilah yang berat untuk kami lakukan.’”

Help file produced by WebTwin (www.webtwin.com) HTML->WinHelp converter. This text does not appear in the registered version.