Cerdas !Mengingat Mati

Pengakuan dan rasa memiliki

Posted by: adityanurbaskoro on: Juni 2, 2007

from:fakhrurrozy

Dimanapun berada, apakah di kantor, di pusat perbelanjaan, serta di berbagai perkumpulan, rata-rata pembicaraan yang cendrung terdengar hanya seputar urusan dunia. Jarang sekali terdengar sebuah pembicaraan tentang urusan agama dijadikan sebagai topik utama.

Tidaklah salah membicarakan urusan dunia, tempat dimana tiap manusia mengusahakan hidup dan kehidupan. Yang salah adalah, bila menganggap pembicaraan urusan akhirat, nasehat serta bermacam wejangan menjadi urusan nomor sekian serta asing ketika dibicarakan. Ketika bahasan untuk saling ingat mengingatkan tentang urusan akhirat, sebuah urusan yang sangat pasti, menjadi “tidak umum” dan kurang menarik untuk di dengar dan di bahas.

Pembicaraan persoalan agama, amal soleh, ibadah, nasihat dalam taat dan kebaikan serta segala macamnya yang sejenis seolah-olah hanya menjadi monopoli dan konsumsi ketika berada di masjid ataupun majelis taklim serta majelis dzikir. Ketika lepas dari tempat-tempat tersebut, semua pembicaraan kembali pada perihal seputar dunia saja.

Begitu jarang dijumpai sebuah pembicaraan yang menyinggung permasalahan akhirat, nasehat untuk taat serta kebesaran Alloh SWT ataupun kemuliaan dan perjuangan Rosululloh SAW yang memperjuangkan tegak dan tersebarnya risalah islam ini ke seluruh penjuru bumi, yang tanpa semua itu belum tentu kita bisa mengecap indahnya islam saat ini. Sudah saatnya kita mengenang, merenungkan begitu beratnya perjuangan Nabi Muhammad SAW serta para sahabat Rodhiallohuanhum agar kalimat tauhid bisa tegak dalam hati tiap umat saat itu.

Mereka tak mengharap apa-apa selain keridhoan Alloh SWT. Namun, pernahkah terdengar bahwa mereka mengharap gunung emas dan materi dunia sebagai ganti dan imbalan dari hal yang mereka serukan? Malahan Rosululloh SAW sendiri pernah bersaksi dengan keyakinan yang mantap untuk menolak kenikmatan dan gemerlap dunia yang dijanjikan para pemimpin zalim saat itu sebagai imbalan jika bersedia meninggalkan dakwah islam. Sungguh, dunia bagi mereka hanya merupakan sarana yang digunakan dalam rangka mentaati Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW. Sesungguhnya, kebahagian mereka ada dalam kenikmatan mentaati dan mencintai Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Rasa memiliki mereka terhadap islam bagaikan nafas yang senantiasa dihirup yang dibutuhkan dalam kelangsungan kehidupan.

Adakah kita memiliki rasa, semangat serta kecintaan seperti mereka?

Wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

a

Blog Stats

  • 3,200 hits

From Mai Fren: Abu

"Duniate nao ka dayya, Akhirate kandayyona... Duniate nao ka dayya, Jahanname kandayyona.( Dunia ini tempat menangis, biarlah kita menangis didunia asalkan jangan menangis di akherat. Dunia ini memang tempat menangis asal jngan menangis lagi di neraka"

from : Buya Najla

Wahai Istriku Jika Aku Pergi Nanti Untuk Berjuang Di Jalan Alloh Kau Akan Temui Rumah Kita Akan Kosong, Maafkan Aku Yang Tak Bisa Membelikan Engkau Benda Benda Dunia, Tapi Kuharap Engkau Rela Asalkan Rumah Rumah Orang ISlam Penuh Dgn Nur Iman Dengan Asbab Keluarnya Aku Di Jalan Alloh

from : Buya Najla

Sibukkanlah Umurmu untuk perkara agama atau engkau akan sibuk juga tapi bukan untuk perkara agama

from : Buya Najla

Kesusahan Di Dunia Untuk Agama adalah Kesenangan Di Akherat Yang Selama2nya

From : Firdaus Herliansyah

"Hiduplah untuk mencari ridho Alloh, kawan-kawanku. Dunia hanyalah fatamorgana sesaat saja. Akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Dan hanya Alloh lah sebaik-baik tempat kembali"

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Halaman

 

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930